| |
| Richard |
Ciputat Baru Jl. Parkit |
richard.harry@hotmail.com
|
| Komentar |
MOHON PERHATIAN PEMKOT TANGERANG SELATAN mengenai Kali yang berada di Perumahan Ciputat Baru. Kondisi Kali yang sudah dangkal sehingga setiap Hujan datang selalu menyebabkan Kebanjiran bagi warga Ciputat Baru, terutama warga yang tinggal di sekitar Kali. Mohon dicarikan Solusi untuk mengatasi Banjir akibat Hujan atau Kiriman dari Kali Ciputat. Kiranya Pak Walikota memperhatikan warganya yang tinggal di Ciputat Baru. Kami yakin Bapak Walikota tidak akan tinggal diam melihat Kondisi Perumahan Ciputat Baru yang setiap saat warganya tidak dapat tidur nyenyak Jika Hujan sudah datang. Kami juga menghimbau kepada Seluruh Aparatur Pemerintah yang membawahi wilayah Kampung Sawah agar juga mencari solusi agar dapat mengatasi Banjir di Perumahan Ciputat Baru. dan kami berdoa agar ada tindak lanjut dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan..Amin. |
| Asmanto |
Jln. Raya Perigi-Lengkong No.5 Perigi Baru |
mantoasmanto@yahoo.co.id
|
| Komentar |
Semoga Tangsel cepat berkembang |
| erlan maulana |
jln H Sarmah RT 004/02 |
land_83me@yahoo.com
|
| Komentar |
sukseskan pemilukada Tangsel..!!! |
| asep surasep |
BSD I.X No. 3 |
akangsunda@yahoo.com
|
| Komentar |
sayang ya... website secantik ini, tidak ada halaman yang menjelaskan dimana alamat surat (bukan alamat email) pemda kota tangerang selatan, atau dinas terkait di bawahnya. |
| herwin nur |
taman manggu indah blok G5/5, pondok aren, kota tangsel |
golda_ab@yahoo.com
yahoo.com |
| Komentar |
DIKOTOMI KOTA TANGSEL : PRIBUMI vs PENDATANG
Undang-Undang RI Nomor 51 Tahun 2008, tentang “PEMBENTUKAN KOTA TANGERANG SELATAN DI PROVINSI BANTEN”, tertanggal 26 November 2008, yang konon berdasarkan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat, telah melahirkan berbagai berita. Harian Rebublika, Sabtu, 14 Agustus 2010 / 4 Ramadhan 1431, khususnya pada halaman 11 tercetak berita tentang Tangsel seputar pemilukada Sabtu, 13 November 2010.
Melacak judul, isi dan makna yang tersirat dalam berita tersebut, membuktikan bahwa masih ada pemikiran yang berbasis PAD (Putera Asli Daerah). Isu orang pribumi (versi komedian) atau putra daerah secara demokratis merupakan angin sejuk. Adanya pasangan independen yang tak diusung partai politik (parpol) sebagai bakal calon (balon) Walikota dan Wakil Walikota Tangsel sebagai awal tradisi yang betul-betul aspiratif, bukan rekayasa politis. Perang spanduk antar balon secara tak langsung menunjukkan siapa kucing dalam karung. Popularitas di era Reformasi dekade II bukan jaminan seseorang serta merta mendapat kepercayaan. Sering nampang di media masa bukan jaminan untuk dipilih.
Jumlah pemilih di kota Tangsel saat masih bagian kabupaten Tangerang = 762.064 jiwa, 4 tahun yang lalu. Jelang pemilukada Tangsel, menyusut menjadi 690.478 jiwa (populasi pendukuk kota Tangsel 2007 sebanyak 918.783 jiwa). Tangsel dengan penduduk < 1 juta jiwa masuk kategori kota tertentu, dengan segala permasalahan yang tidak berbau kota. Dukungan 7 kecamatan, walau berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan provinsi DKI Jakarta, sebagai unggul lokasi namun bagaimana dengan unggul potensinya? Akumulasi nilai jual kota Tangsel akan mempermudah pelaksanaan otonomi daerah. Masalah sampah yang susah cari lokasi TPST, alih fungsi hunian menjadi tempat usaha yang meresahkan warga bak senjata makan tuan. 3K bisa mengacak-acak Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang Selatan. Seperti yang sedang terjadi di kompleks perumahan Taman Manggu Indah (TMI), kecamatan Pondok Aren.
Penduduk kategori pendatang dapat dilihat dari domisilinya, pada umumnya mereka menghuni dan bertempat tinggal di kawasan perumahan BTN, real estate, maupun cluster yang bermunculan sebagai pelanggan banjir. Terjadi alih fungsi dari usaha sawah tradisional menjadi hunian mewah (=mepet sawah), industri. Mereka sebagai penglaju, yang kerja, sekolah di luar habitatnya. Secara kuantitas dan kualitas keberadaan pendatang menambah maraknya kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Bahkan Ketua RW 06 TMI, adalah oknum pejabat struktural Eselon II (dua) dari Kemenhut yang mandegani Korpri (baca: abdi masyarakat), melalui mekanisme pemilihan langsung oleh warga yang berhak memilih layaknya pemilu. Kurang kontribusi dan peduli apa sebagai penduduk pendatang, Ketua RW 06 TMI mau mendudukan dirinya di “bawah” Lurah [pangkat/golongan Lurah sebagai PNS minimal Penata (III/c)]. Kendati Lurah bisa mendapatkan limpahan urusan pemerintahan kabupaten/ kota dari Bupati/Walikota yang merupakan urusan wajib dan urusan pilihan. Terkadang Ketua RT dan RW berkiprah sebatas urusan administratif, tak ada power atau posisi tawar dalam urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
Orang pribumi di daerah penulis, bisa didengar ketika ada hajat sunat utawa pesta nikah : diiringi ledakan petasan renteng dan ukuran bom, gema orgen tunggal nonstop plus penyayi dadakan, layar tancap sampai pagi dilengkapi dengan berbagai acara atraktif lainnya. Air tanah susah dikonsumsi membuka peluang sebagai pemasok dan penjaja air bersih, PSK (pedagang sayur keliling), ikut bantu cuci baju, abang tukang ojek, penjual makanan di malam hari (kebanyakan kaum pendatang), pengumpul dan pengepul barang bekas, pemulung, keamanan lingkungan, pengayuh odong-odong, dan lain bisanya, terutama kerja instan (habis kerja dapat duit).
Titik temu antara orang pribumi dengan penduduk pendatang, saat berurusan dengan rupiah (Rp). Sebagai potensi daerah di bidang SDM, antara orang pribumi dengan penduduk pendatang, bergerak di antara dua kutub yang bisa kontradiktif atau saling menguntungkan : Kutub pertama adalah masyarakat yang rentan dan rawan Rp. Hasil kerja sehari belum tentu bisa untuk makan sehari. Lapangan kerja yang tidak menjanjikan ditunjang dengan keahlian yang seadanya. Membludaknya tamatan SMU/SMK yang tidak berlanjut ke bangku kuliah, pilih jadi kuli atau kerja serabutan. Mereka sebagai penganut ekonomi rakyat (tak jauh dari urusan isi perut). Mental nasi bungkus, moral sebungkus rokok diandalkan kalau ada unjuk raga dan unjuk rasa di jalanan atau saat kampanye. Aliran ini bisa seperti pepatah pagar makan tanaman. Kutub kedua adalah masyarakat yang rakus Rp. Mereka sebagai penyembah berhala Reformasi 3 K (kuat, kuasa, kaya). Modus operandinya menghalalkan segala cara, tindakan dan ucap. Demi Rp, kawan bisa jadi lawan, seteru berubah jadi sekutu. Tak ada kawan sejati, tak ada lawan abadi. Satu parpol pun kalau menyangkut Rp urusan jadi lain. Rp jadi tujuan hidup. Penggemarnya sangat beragam, termasuk kawanan parpolis atau birokrat penyelenggara daerah otonom yang punya bakat KKN. Ada Rp ada …….
Walhasil, lima tahun ke depan 2010-2015 kota Tangsel bisa tergadaikan dan terbelenggu nafsu sendiri (HaeN). |
| karangtaruna kota tangerang selatan |
jln raya tangerang selatan |
karangtarunakotatangerangselatan@yahoo.c
http://talisimpul.blogspot.com/ |
| Komentar |
website jelek bgt c,ga inovatif dan seadanya..setiap pertanyaan orang2 ga pernah dibales..ayo donk dperbaruhi dan ditunggu inovasi2 terbaru dari websitenya..MEMALUKAN |
| Yovanka |
Permata Pamulang jl. Kaka tua VI no.24 |
yovanka_jojo@yahoo.co.id
|
| Komentar |
Di Permata pamulang ada LPMK Maestro 2012 yang mau membantu tugas pemkot tangsel untuk membangun / menjaga lingkungan. Tapi tdk bisa bekerja krn tidak mendapat ijin dari pemerintah. Tolong berikan perintah resmi dari pemda supaya gerakan mereka mendapat ijin, seperti memberi surat tugas. Karena mereka bekerja sosial tidak digaji atas kemauan mereka sendiri. |
| Yovanka |
Permata Pamulang jl. Kaka tua VI no.24 |
yovanka_jojo@yahoo.co.id
|
| Komentar |
Ternyata warga tangsel hanya pandai mengeluh, gak bisa membangun dirinya sendiri. Pak Wali pasti pusing baru menjabat sati bulan udah terima keluhan masyarakat yang manja. Maafkan kami ya Pak semoga bapak bisa menampung semua keluhan kami ini. Selamat bertugas di tangsel kota. |
| SANTOSO |
JL. SINAR PAMULANG RT 02/02 PAMULANG BARAT |
MILAKARMILA99@YAHOO.COM
|
| Komentar |
SANGAT MENDUKUNG INFORMASI DAN PERKEMBANGAN TANGSEL DIUPDATE TERUS. TRM KSH |
| abi |
PSI Jl.Kutilang 2 B14 |
smongko@yahoo.com
|
| Komentar |
tangerang selatan=desa yang dipaksain jadi kota, perhatikan infrastrukturnya, jalan masih kaya' kubangan, penerangan jalan minim sekali, pengelolaan sampah kacau. |
|
|
|