Pilihan Bahasa ID | EN
Tanggal : 2012-05-19 08:37:24

Bahan Bakar dari Sawit



Limbah kelapa sawit dipilih sebagai bahan penghasil etanol karena melihat potensinya yang sangat besar di Indonesia.

Oleh Muhammad Fakhruddin

Upaya yang dilakukan ilmuwan Indonesia ke arah energi alternatif mulai membuahkan hasil. Kurang dari dua dekade lagi, atau tahun 2025, Indonesia akan menyulap kelapa sawit tidak hanya untuk bahan baku minyak goreng, tetapi untuk menggerakkan mesin kendaraan bermotor. Diharapkan dapat dengan signifikan menggantikan minyak fosil yang tak dapat terbarukan dan makin seret keberadaannya di perut bumi.

Proyek ke arah sana tengah dirintis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namanya Bioetanol Generasi II. Inilah energi baru terbarukan (EBT) yang berasal dari biomassa lignoselulosa. LIPI, bekerja sama dengan Korean International Cooperation Agency (KOICA-Korea Selatan), sedang mengembangkan Pilot Plan for Lignocellulosic Bioethanol untuk produksi bioetanol yang dihasilkan dari lignoselulosa tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya kandungan oksigen yang tinggi, sekitar 35 persen. Apabila dibakar, sangat bersih dan ramah lingkungan. Emisi gas karbonmonoksidanya lebih rendah, sekitar 19-25 persen, dibanding bahan bakar minyak (BBM) sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbondioksida (CO2) di atmosfer.

Yanni Sudiyani, peneliti utama Bioetanol Biomassa Lignoselulosa dari Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI, mengemukakan, ilmuwan dunia kini saling berlomba menghasilkan BBM yang bisa menjadi EBT. Banyak sumber energi alternatif lain yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber EBT, seperti biomassa atau bahan bakar nabati (BBN). ''BBN bersifat ramah lingkungan, dapat diperbarui, serta mampu mengeliminasi emisi gas kontaminan dan efek rumah kaca,'' katanya.

Sebenarnya, pada generasi pertama, etanol sudah bisa dihasilkan dari bahan pati-patian, seperti jagung dan singkong. Namun, penggunaan bahan tersebut masih ada potensi kompetisi dengan kebutuhan pangan manusia. "Kini, pada generasi kedua kami menggunakan bahan limbah dari kelapa sawit yang disebut TKKS," kata Yanni.

Pada bioetanol generasi kedua ini, limbah kelapa sawit dipilih sebagai bahan penghasil etanol karena melihat peluangnya di Indonesia sangat besar. Sebab, Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia yang sebelumnya dipegang oleh Malaysia.

"Limbah kelapa sawit itu cukup banyak, mulai dari TKKS, kini pelepah dan batangnya pun sedang kami teliti untuk menjadi bahan penghasil bioetanol lewat generasi kedua ini," tutur Yanni.

Lama dan mahal
Namun, produksi etanol Generasi II  prosesnya lebih lama, sulit, dan lebih mahal dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Alatnya yang bernama Pilot Plan for Lignocellulosic Bioethanol itu seharga 2,22 juta dolar atau sekitar Rp 10 miliar yang bisa menghasilkan 10 liter bioetanol lignoselulosa per hari.

Dengan ukuran tinggi 10 meter dan luas 33 meter x 18 meter, alat tersebut akan memakan proses yang lebih panjang dari generasi I. Kini, harus melalui proses pretreatment atau perlakuan awal lebih dahulu.

Mulanya, 1 ton bahan baku lignoselulosa berupa TKKS dimasukkan ke dalam alat untuk dicacah menjadi fiber selama tiga jam. Setelah itu, masuk dalam proses pretreatment selama 1-2 jam (pada Generasi I proses ini tidak ada) yang bertujuan untuk penghilangan lignin (delignifikasi) dan memecah kristal selulosa. Kemudian, masuk ke dalam proses pemecahan karbohidrat (sakarifikasi enzimatik) selama 48 jam yang akan dilanjutkan pada proses fermentasi selama 72 jam.

Tahap selanjutnya difurifikasi atau yang biasa disebut dehidrasi etanol yang akan menghasilkan 99,5 persen bioetanol. "Satu ton TKKS kurang lebih akan menghasilkan 150 liter etanol. Sedangkan untuk mencampur dengan bensin, yaitu premium, dengan persentase campuran sekitar 85 persen premium, 15 persen bioetanol," kata Yanni.

Peneliti Bidang Teknologi Proses dan Katalisis Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI, Sudiyarmanto, menambahkan, bioetanol sudah diterapkan pada bensin bio premium di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina. Namun, harganya masih terbilang cukup mahal karena masih sekelas dengan pertamax. "Oktan untuk biopremium memang lebih tinggi dari premium, yaitu sebesar 90-95 dibandingkan pada premium yang hanya 70-79," katanya.

Sayangnya, pemerintah belum bisa menyubsidi biopremium. Padahal, menurut Sudi, apabila disubsidi seharga premium, bisa membantu pencegahan emisi gas yang berlebihan karena biopremium sangat ramah lingkungan. "Yang lebih hebat lagi jika Indonesia bisa memproduksi kendaraan lokal dengan mesin berbahan bakar bioetanol, kita pasti bisa menghemat minyak bumi lebih banyak," katanya. ed: asep nur zaman

Sumber:
Republika (Online)

Copyright © 2011
Situs Resmi Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Dilindungi oleh Undang-undang.
Dikelola oleh Bagian Pengelola Teknologi Informasi Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Email:info@tangerangselatankota.go.id