Seluruh kerusakan fisik bangunan tersebut akan segera diperbaiki.
Polisi pun mengaku bertanggung jawab atas seluruh kerugian yang harus
ditanggung pemilik ruamh kost.
"Ya pasti akan kita ganti. Yang gede saja kita pasti ganti,
apalagi kaca pecah," kata Kadiv Humas Polri Irjen Nanan Soekarna kepada
wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Nomor 1, Jakarta Selatan, Rabu
(14/10).
Selain itu, polisi juga akan mengganti kerugian yang harus ditanggung
para penghuni kost yang sempat "diusir" dari kamarnya. Namun teknis
ganti rugi tersebut belum selesai. "Ya, kita ganti,"ujarnya.
Selama empat hari terkatung-katung, akhirnya penghuni rumah kos di
Jalan Semanggi I, Ciputat, diperbolehkan kembali masuk ke kamar
masing-masing. Menurut salah satu penghuni kos, Eko Fajrin, dia dan
penghuni kos lainnya diizinkan masuk sejak kemarin sore. "Kami baru
boleh masuk ke kosan kemarin, jam 06.00 Wib. Selama tiga hari saya
tinggal di kos temen," kata Eko.
Izin masuk tersebut berbarengan dengan dilepasnya police line dari area
kos maupun di depan jalan masuk. Namun khusus untuk kamar nomor 15,
yang digunakan untuk Syaifudin Zuhri dan M Syahrir bersembunyi masih
dipasang police line. Pada pintu masuk kamar ditutup oleh triplek.
Terlihat sebagian penghuni kos sedang membersihkan kamar masing-masing.
Sejumlah petugas dari Polres Metro Ciputat tampak masih berjaga-jaga di
sekitar lokasi.
Sementara itu, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
membantah adanya kabar penambahan mata kuliah antiterorisme. Namun yang
ada adalah memperdalam mata kuliah pengantar studi Islam yang ditinjau
dari berbagai aspek.
Penjelasan itu dikemukakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin
Hidayat. "Yang perlu diluruskan bukan penambahan mata kuliah, tapi
hanya reorientasi dalam menghidupkan kembali pengantar studi Islam yang
ditinjau dari berbagai aspek,"jelasnya.
Menurut Komaruddin, menghidupkan kembali mata kuliah tersebut karena
memang sedari awal sudah ada. Namun sejalan dengan perubahan kurikulum,
maka pengantar studi Islam menjadi lebih tematis.
Munculnya isu mata kualiah antiteroris ini setelah Sonny Jayadi
dan Afham Ramadhan, mahasiswa UIN diciduk Densus 88 karena terlibat
aktivitas terorisme. Bahkan Fajar, sepupu Syaifudin dan Syahrir yak tak
lain teroris yang tertembak mati dalam penggerebeken di Ciptut
merupakan alumni UIN.
Komaruddin juga mengatakan, terkait potensi jaringan teroris masuk
kampus, UIN tidak menerapkan sistem pengawasan khusus. "Tidak ada
pengawasan. Kampus tempat bertukarnya informasi secara bebas," ujarnya.
(ok)