Pemkot Ikuti Pelatihan Ciptakan Branding City


CIPUTAT, WEB TANGSEL- Sebanyak 30 pejabat pemerintahan Kota Tangsel ikuti pelatihan coaching for coach yang diadakan oleh Pemkot di gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Ciputat, Senin (9/10). Seluruh peserta merupakan pejabat terpilih yang dianggap mampu untuk menciptakan program branding bagi Tangsel.

Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) kota Tangsel Asep Saripudin mengatakan seluruh pejabat yang ikut pelatihan ini merupakan saringan dari 120 ASN yang didaftarkan.

Tangsel merupakan sebuah kota baru yang memliki banyak potensi. Saking banyaknya, masyarakat luar Tangsel sulit mengetahui branding apa yang bisa mempresentasikan Kota Tangsel. Karena itu dengan pelatihan semacam ini, diharapkan nanti Tangsel bisa memiliki program, julukan serta cirikhas yang mampu menggambarkan Tangsel.

”Tim Change ini bertugas untuk mencari tahu nantinya. Apasih program, produk atau situasi yang mampu menggambarkan Kota Tangsel. Yang artinya Tangsel itu unggul pada bidang tersebut,” kata Asep ketika ditemui di dalam rangkaian acara pelatihan itu.

Asep menambahkan dari 120 ASN terdaftar, hanya 50 orang yang lolos tahap akhir. Dari 50 orang tersebut dipilih menjadi tiga kelompok. Yaitu kelompok Change Leader, Change Agent dan Change Coach.

 

Kepala BKPP Kota Tangsel Apendi mengatakan kemarin adalah pelatihan yang diperuntukan tim change coach. Dimana anggotanya sendir merupakan ASN eselon tiga dan empat. Dimana mereka semua sudah melakukan penyaringan berupa asesmen daring yang diberikan oleh tim Rumah Perubahan.

”Dalam asesmen tersebut, mereka itu diberi banyak pertanyaan. Kemudian diwawancara, dari sana tersaringlah 51 pejabat ini. Dan dibagi menjadi tiga tim,” katanya.

Dia menambahkan pelatihan ini akan berakhir per Desember nanti. ”Jadwalnya sampai Desember, tapi yang bisa dipercepat tapi bagaimana nanti,”ungkapnya.

Sementara pihak Training, Cahya Maulana mengatakan seluruh pejabat terpilih menerima berbagai macam pelatihan. Misalnya, cara memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kemudian, peserta pelatihan juga diharapkan mampu memilah permasalahan urgensi .

”Jadi harapannya, mereka bisa mempertimbangkan seberapa penting programnya, ada kontribusi tidak dalam permasalahan yang dihadapi sehingga nantinya pembentukan program City brandingnya bisa maksimal,” pungkasnya.(humas_kominfo)